International Seminar on Pharmaceutics 2015 “Hadapi Tantangan Global”

04-08-2015 Hukmas Dilihat 3354 kali Pusat Data dan Informasi Obat dan Makanan

Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung (ITB) menyelenggarakan International Seminar on Pharmaceutics 2015 bertempat di Harris Hotel Bandung, 3-5 Agustus 2015. Seminar internasional bertema “Advanced Research in Pharmaceutical Science and Technology Towards Real Implementation in Pharmaceutical Industry” ini dihadiri oleh para akademisi/peneliti di bidang farmasi dalam dan luar negeri, industri, dan institusi pemerintah terkait.

 

Kegiatan yang berlangsung selama beberapa hari ke depan menggabungkan konsep seminar, mini workshop, dan pameran dengan tujuan mengkaji berbagai penelitian sains dan teknologi untuk pengembangan industri farmasi dalam upaya menghadapi tantangan global di masa yang akan datang. Terlebih pada akhir tahun 2015 akan diberlakukan Asean Economic Community (AEC) yang akan berdampak pada semua sektor termasuk farmasi. Persaingan pasar bebas di kawasan ASEAN itu harus dihadapi dengan terus memperbaharui ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi yang mencakup perkuatan riset dan regulasi.

 

Kepala Badan POM, Roy Sparringa menyampaikan bahwa industri farmasi di Indonesia sangat potensial dengan market terbesar di ASEAN. Hal ini sekaligus merupakan tantangan bagi Indonesia sebagai negara terbesar dan terpadat penduduknya di kawasan ASEAN harus mampu menjadi pemimpin di bidang farmasi. Tercatat sebanyak 208 industri farmasi berkiprah di Indonesia dengan rincian 7 industri milik pemerintah/ BUMN, 167 industri lokal, dan 34 industri multinasional.

 

Beberapa isu strategis menghadapi AEC 2015 yang perlu diperhatikan antara lain komitmen negara-negara ASEAN, integrasi pasar, otorisasi pasar, pengawasan pre dan post market, harmonisasi standar dan regulasi, serta pengakuan penilaian bersama dan hambatan teknis perdagangan. Selain itu, semua pihak baik akademisi, industri, dan pemerintah harus bersinergi dalam melakukan perkuatan riset untuk mengembangkan obat baru dengan mempertimbangkan peluang Indonesia dalam AEC 2015.

 

Badan POM sebagai institusi pemerintah yang berwenang melakukan pengawasan Obat dan Makanan sangat terbuka kepada semua pihak baik akademisi maupun industri untuk berdiskusi dan terlibat aktif dalam pengembangan obat di tanah air. Menurutnya, selain kompetisi pasar, tantangan besar industri farmasi Indonesia yaitu 95% bahan baku obat masih diimpor. Padahal Indonesia merupakan mega biodiversity di dunia, dimana potensi sumber daya alam dan keanekaragaman hayati yang kaya berguna sebagai bahan baku pengembangan farmasi dan pengobatan herbal. HM-20

 

Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat

Bagikan:

Klik disini untuk chat via WhatsApp!+
Sarana